Puncak Musim Hujan Yogyakarta Diprediksi Januari-Februari Tahun Depan

Januari tahun depan Yogyakarta diprediksi akan mengalami puncak musim hujan. Demikian perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta.
Newswire | 22 November 2017 10:29 WIB
Ilustrasi: Wisatawan mengunjungi objek wisata Puncak Batara Sriten, Pilangrejo, Nglipar, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Jumat (25/8). - ANTARA/Hendra Nurdiyansyah

Bisnis.com, YOGYAKARTA - Januari tahun depan Yogyakarta diprediksi akan mengalami puncak musim hujan. Demikian perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta.

"Pada November rata-rata curah hujan antara 40-70 milimeter (mm) per hari, untuk puncaknya diprediksi terjadi pada Januari hingga Februari 2018," kata Kepala Kelompok Operasional Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Joko Budiono di Yogyakarta, Rabu (22/11/2017).

Joko mengatakan untuk musim hujan saat ini kecepatan angin maksimum di DIY bisa mencapai 30 km per jam dengan suhu udara berkisar 21-32 C dengan kelembaban antara 70-95%.

Saat puncak musim hujan pada Januari 2018 curah hujan dapat mencapai lebih dari 50 mm per hari atau 400 hingga 550 per bulan.

Dalam sepuluh hari terakhir, kata dia, tercatat di wilayah Kabupaten Sleman dan Kulon Progo bagian utara hujan rata-rata per dasarian mencapai kategori tinggi yakni 150-250 mm per dasarian sedangkan Bantul bagian utara dan Kota Yogyakarta berkisar 100-200 mm, terakhir Gunung Kidul sekitar 75-150 mm per dasarian.

"Hasil monitoring dan analisa data terlihat di semua wilayah DIY sudah masuk dalam musim hujan," kata dia.

Ia mengatakan hujan lebat yang disertai petir, angin kencang dalam dua hingga tiga hari ke depan akan berpotensi muncul di Wilayah DIY, terutama DIY bagian utara dan tengah seperti Sleman, Kulon Progo bagian utara, Kota Yogyakarta, Bantul bagian utara serta Gunung Kidul bagian utara.

Ia mengimbau agar masyarakat mewaspadai potensi bencana seperti bahaya banjir, longsor terutama yang tinggal di dataran tinggi, serta tinggi gelombang di laut selatan Yogyakarta yang saat ini dalam kategori tinggi mencapai 2,5-4 meter.

"Terutama yang tinggal di bantaran sungai agar tidak membuang sampah di sungai serta membersihkan drainase, menebang pohon yang tua dan cabang yang sudah rapuh, dan mematikan alat-alat elektronik bila dirasa petir muncul," kata dia.

Sebelumnya, Kepala Bidang Operasional Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD DIY Endro Sambodjo mengatakan pihaknya telah menggandeng para relawan dan komunitas masyarakat membangun sistem peringatan dini secara mandiri untuk menurunkan tingkat risiko bencana memasuki musim hujan.

Endro menyebutka saat ini yang terpantau memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi di DIY khususnya longsor ada di sejumlah kecamatan yakni Kecamatan Samigaluh, Kokap, Kalibawang, serta Girimulyo di Kulon Progo, Kecamatan Gedangsari, Gunung Kidul, Kecamatan Imogiri, Bantul, dan Kecamatan Prambanan, Sleman.

"Sedangkan di Kota Yogyakarta lebih dominan bencana banjir atau luapan air," kata dia.

Sumber : Antara

Tag : yogyakarta, info cuaca
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top