Headline Koran: Obat Bagi Transaksi Berjalan, Bank Bersih-bersih Kredit Bermasalah

Isu soal optimisme penurunan defisit transaksi berjalan akibat penurunan impor menjadi sorotan utama berbagai media nasional hari ini, Senin (2/12/2013) selain isu antisipasi pihak bankir atas terjadinya kenaikan rasio kredit bermasalah menyusul tingginya bunga kredit.
John Andhi Oktaveri | 02 Desember 2013 08:01 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Isu soal optimisme penurunan defisit transaksi berjalan akibat penurunan impor menjadi sorotan utama berbagai media nasional hari ini, Senin (2/12/2013) selain isu antisipasi pihak bankir atas terjadinya kenaikan rasio kredit bermasalah menyusul tingginya bunga kredit.  Berikut ini ringkasan berita-berita utama media Ibu Kota.

“Obat” Bagi Transaksi Berjalan
Nilai tukar rupiah pada kisaran Rp11.000-Rp11.500 per dolar AS sebenarnya sudah cocok untuk membenahi masalah di neraca pembayaran dan transaksi berjalan. Impor akan turun, sedangkan ekspor lebih kompetitif. Defisit transaksi berjalan pun akan segera merosot (KOMPAS).

Bank Bersih-Bersih Kredit Bermasalah

Ketika bank berjibaku membayar cicilan kredit yang membengkak akibat kenaikan suku bunga, para bankir juga berbenah. Mereka mengantisipasi terjadinya kenaikan rasio kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) (KONTAN).

APBN 2014 Masih Aman

Implementasi paket kebijakan ekonomi dan membaiknya perekonomian nasional tahun depan bisa mengembalikan rupiah ke level Rp10.900 dari Rp11.963 per dolar AS pada Jumat  pekan lalu (29/11). Meski nilai tukar rupiah tahun depan masih meleset dari asumsi makro Rp10.500 per dolar AS, APBN 2014 diperkirakan aman dan defisit anggaran tidak akan melebihi target 1,69% terhadap produk domestik bruto (PDB) (INVESTOR DAILY).   

BI Diminta Tegas Atur DHE

Tingginya defisit transaksi berjalan (current account) Indonesia kini menjadi sorotan pengamat dan anggota DPR, bahkan lembaga internasional IMF dan Bank Dunia juga menilainya sebagai kondisi soft landing. Karena itu, Bank Indonesia diminta lebih tegas lagi membuat aturan pengelolaan devisa hasil ekspor (DHE), bukan hanya sebatas imbauan belaka dengan sanksi ringan (NERACA).

 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top