Headline Koran: Momentum Ekonomi Positif, Data BPS Dimanipulasi?

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan Presiden SBY untuk tidak menyia-nyiakan momentum positif perbaikan ekonomi menjadi sorotan utama berbagai media nasional hari ini, Rabu (2/10/2013) selain persoalan ekonomi Indonesia yang masih rentan terhadap gejolak
John Andhi Oktaveri | 02 Oktober 2013 08:04 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan Presiden SBY untuk tidak menyia-nyiakan momentum positif perbaikan ekonomi menjadi sorotan utama berbagai media nasional hari ini, Rabu (2/10/2013) selain persoalan ekonomi Indonesia yang masih rentan terhadap gejolak dan kecurigaan atas data BPS yang menyebutkan terjadinya deflasi dan surplus neraca perdagangan.

Berikut ini ringkasan berita-berita utama media Ibu Kota.

Momentum Ekonomi Positif
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memerintahkan jajaran pemerintah untuk tidak menyia-nyiakan momentum positif perbaikan ekonomi. Jika momentum positif itu dapat terus dipertahankan, usaha untuk mengatasi problem ekonomi akan lebih berhasil (KOMPAS).

Rupiah Dihantui Problem Baru Amerika
Ekonomi Indonesia masih rentan bergejolak. Usai mendapat angin segar dari dalam negeri berupa surplus neraca perdagangan dan redanya tekanan inflasi, kini gangguan baru datang lagi dari negeri Uwak Sam: Penghentian jalannya pemerintahan pemerintahan AS karena kekurangan dana (KONTAN).

Mungkinkan Data BPS Dimanipulasi?
Sejumlah praktisi ekonomi menyebut, laporan yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sangat janggal dan kemungkinan dimanipulasi. Pasalnya, di tengah perlambatan ekspor dan derasnya impor, BPS justru merilis adanya surplus neraca perdagangan pada Agustus sebesar US$132 juta. Kejanggalan lainnya tampak jelas terlihat dari adanya deflasi pada September di tengah maraknya kenaikan harga, khususnya harga produk pangan (NERACA).   

Inflasi Mereda, Perdagangan Surplus
Tekanan inflasi mulai mereda. Pada September bahkan terjadi deflasi sebesar 0,35%. Ini merupakan deflasi September pertama dalam 12 tahun terakhir. Dengan deflasi ini, inflasi tahunan tercatat 8,4% dan inflasi tahun ini berpotensi di bawah 9% (INVESTOR DAILY).   

APEC On The Right Track
Anggota ekonomi Kerjasama Asia Pasifik (APEC) masih menghadapi tantangan yang cukup berat untuk mebali mencapai pertumbuhan yang tinggi dan berkelanjutan. Namun, sejumlah negara sudah berada di jalur yang semestinya untuk mengamankan pertumbuhan ekonomi, terutama mengurangi defisit anggaran (INDONESIA FINANCE TODAY).

 

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top